Kamis, 19 Januari 2017

Rumah Adat Bambu Berusia Seabad Di Penglipuran-Bali

| 766 Views
id Desa Tradisional Penglipuran, Desa adat Penglipuran, Ulun Danu Beratan
Rumah Adat Bambu Berusia Seabad Di Penglipuran-Bali
Sejumlah wisatawan domestik melihat pemandangan rumah tradisional di Desa Penglipuran, Bangli, Bali. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/wdy)
Anda pernah melihat rumah adat dari bambu yang berusia seabad (100 tahun) atau lebih ?! Biasanya, wisatawan datang ke Bali untuk menyasar objek wisata dengan sajian fenomena matahari terbit atau terbenam.

Nah, Desa Penglipuran yang terletak di Kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, yang berjarak 45 kilometer dari Kota Denpasar ke arah timur menuju Bukit/Pantai Kintamani itu mempunyai sajian berbeda yakni ratusan rumah adat yang berjajar dan sebagian di antaranya terbuat dari bambu.

"Desa kami memang berada di kawasan hutan bambu, karena itu kakek saya mewariskan rumah bambu kepada bapak, lalu diwariskan ke saya lagi," ucap Nanglibat (76), warga Penglipuran, saat menceritakan `desa bambu` yang sepertiga dari 112 hektare luas desa itu merupakan hutan bambu.

Saat itu, ayahnya menyebut usia rumah bambu itu sudah 90 tahun, sehingga kalau dihitung dari kakeknya hingga ayahnya, tentu berusia lebih dari satu abad, tapi kakek dan ayahnya memang pandai merawat warisan turun temurun itu, sehingga terlihat masih bagus.

"Ada dua rumah bambu di rumah saya dan salah satunya sudah saya ganti atapnya dari ilalang menjadi genteng, karena lapuk," tutur bapak dari dua anak yang bekerja sebagai petani di desa seberang, Desa Kubu.

Ia juga membangun dua rumah lagi untuk anaknya yang terbuat dari batu bata dan kayu. "Saya sendiri yang membangun untuk anak-anak saya, tapi satunya saya tempati, karena satu anak saya ikut suaminya di Jawa," paparnya.

Ya, deretan rumah adat di Desa Adat Penglipuran memang tidak semuanya terbuat dari bambu, bahkan mayoritas sudah terbuat dari batu bata dan kayu, tapi setiap rumpun rumah untuk satu keluarga itu ada 1-2 rumah di antara 6-7 rumah yang ada itu terbuat dari bambu.

Untuk memasuki setiap rumpun rumah itu, wisatawan harus melewati "angkul-angkul" (pintu gerbang khas Bali). Desa adat yang dirancang khusus untuk wisata itu diresmikan sebagai desa wisata sejak tahun 1995 oleh Menteri Pariwisata saat itu, Soesilo Soedarman.

Selain angkul-angkul, juga ada bangunan suci (merajan), dapur, tempat tidur (bale), ruangan tamu, lumbung (tempat menyimpan padi) dan kamar mandi.

Hal yang mungkin baru adalah ruangan tamu atau "Bale Delod" yang disulap menjadi toko untuk tempat memajangkan aneka jenis cindera mata hasil karya warga setempat yang sebagian sudah tidak hanya bertani. Cindera mata yang dipajang antara lain kain tenunan tradisional.

Ya, Anda dapat keluar-masuk ke ratusan rumah adat berbahan baku bambu dari hutan bambu yang diperkirakan sudah ada sejak abad XI itu dengan leluasa. Perkiraan dari abad XI itu dibuktikan dengan adanya bangunan suci (pelinggih) "Ratu Sakti Mas Pahit" di sekitar Desa Penglipuran.

Menarik bukan? Anda cukup merogoh kocek Rp10.000 per orang untuk menikmati suasana "masa lalu" dari Pulau Dewata yang takkan terlupakan hingga kembali ke kota Anda sendiri.

Pura "Di Atas Air" Beratan

Berbeda dengan rumah bambu di Desa Adat Penglipuran, Anda juga bisa datang ke Danau Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, yang di dalamnya ada pura "di atas air" di tengah Danau Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali.

"View-nya sangat bagus," ucap Ashilah, wisatawan asal Surabaya saat menyaksikan pemandangan pura "di atas air" di Danau Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali itu.

Tidak hanya Ashilah, para wisatawan mancanegara juga banyak yang tidak mau melewatkan keindahan yang ada, karena itu mereka pun berpose bersama teman dan kerabatnya dengan foto berlatar pura yang ada di danau itu.

Seorang tukang foto komersial menyebut wisatawan mancanegara yang datang umumnya dari Australia, meski dari negara lain juga ada, seperti China, India, dan beberapa negara ASEAN.

Ya, bangunan suci yang bertingkat (meru) di tengah Danau Beratan itu memang menjadi ciri khas yang menampilkan panorama keindahan alam yang bukan sebatas pantai atau danau lagi seperti biasa dinikmati di Pulau Dewata.

Danau di daerah berhawa sejuk yang berjarak sekitar 65 km ke arah utara dari Kota Denpasar itu pun pernah masuk dalam 20 besar objek wisata danau tercantik di dunia versi "The Huffington Post", sebuah laman berita asal Amerika Serikat.

Di tengah-tengah danau itu memang terdapat tempat suci Pura Ulun Danu Beratan yang menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Tabanan, selain objek wisata Tanah Lot.

Tidak hanya itu, Daerah Tujuan Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan juga menyajikan panorama pepohonan dan hewan serta ada lokasi wisata terpisah di samping DTW itu yang menyewakan kendaraan air untuk berkeliling danau.

"Yang juga menarik, di seberang DTW itu terdapat masjid khusus wisatawan yang menyiratkan indahnya kerukunan beragama di Pulau Dewata," ujar warga Bedugul, Ny Suniah.

Apalagi, Pura Danu Beratan juga menjadi pusat kegiatan ritual masyarakat sekitarnya, terutama "Melasti" yakni membersihkan "pratima" (benda suci yang disakralkan) mengawali perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka yang digelar tahunan.

Kegiatan ritual yang biasa dilaksanakan pada bulan Maret setiap tahun itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, karena sekelompok penabuh irama "bleganjur" menyertai iring-iringan umat Hindu mengusung "pratima" dari sejumlah Desa Adat (Pekraman) di sekitarnya.

Ya, objek wisata Ulun Danu Beratan memang memadukan wisata alam dan wisata tradisi yang lain daripada yang lain, apalagi daerah itu juga menjadi bukti kerukunan antaragama di Bumi Nusantara. Indah, bukan ?!. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga