Selasa, 24 Oktober 2017

Prof Dibia Soroti Fenomena Degradasi Kesenian Untuk Pariwisata

| 376 Views
id Degradasi Kesenian, Pariwisata seni, kesenian bali,
Prof Dibia Soroti Fenomena Degradasi Kesenian Untuk Pariwisata
Tradisi Bali (dokumen/edm)
Denpasar (Antara Bali) - Budayawan dan maestro seni tari Prof Dr I Wayan Dibia menyoroti fenomena pertunjukan kesenian Bali untuk kepentingan pariwisata yang terkesan mengalami degradasi dan menjadi kehilangan wibawa.

"Pertunjukan seni untuk wisata, sekarang ini menjadi begitu dangkal karena para pelakunya hanya memikirkan persoalan fisiknya saja, dan tidak didasari pendakian spiritual," kata Prof Dibia di Denpasar, Kamis.

Dia mencontohkan, seringkali setelah pertunjukan Barong, Barong yang ditarikan justru memberi hormat kepada penonton.

"Kalau begitu, kan jadi kehilangan wibawa. Itu bahayanya ketika pertunjukan tidak didasari pendakian spiritual. Sebab elemen kesenian Bali sesungguhnya semua berisi pendakian sprituaL, tinggal persentasenya ada yang lebih kecil dan lebih besar," ujarnya.

Guru besar ISI Denpasar itu mengingatkan bahwa hakikatnya pertunjukan seni harus memiliki kekuatan yang menyebabkan orang menjadi terpesona dan terpukau.

"Namun, degradasi pertunjukan seni bahkan telah terjadi pada hotel-hotel besar, lalu bagaimana konsistensi untuk keberlanjutan pariwisata budaya, kalau budayanya sudah seperti itu," ucapnya mempertanyakan.

Contoh lainnya, lanjut dia, untuk pementasan Kecak yang hanya dimainkan oleh sekitar 25-30 orang, itupun yang mengetahui "pukulan" kecak dengan tepat mungkin hanya 10 orang. Sedangkan sisanya hanya mengandalkan gerak tubuh. Demikian juga dengan pementasan Legong, ada yang ditampilkan dengan penabuh sangat sedikit.

Menurut Dibia, dengan kondisi lapangan seperti itu, maka menjadi semakin sulit untuk membayangkan adanya pertunjukan yang "metaksu" atau berkharisma.

Dia sangat berharap agar pemerintah ikut memperhatikan hal-hal seperti itu. "Sekarang ini tidak banyak sekaa (sanggar) seni yang berkomitmen untuk tampil hanya sekali atau dua kali dalam seminggu untuk menjaga kualitas pementasan," ujarnya.

Dibia berpandangan, yang ada justru "sekaa" kesenian berlomba-lomba untuk memperoleh pendapatan yang besar, namun tidak memiliki cukup waktu untuk berlatih dan mendalami karakter kesenian yang dibawakan.

"Pendalaman untuk bagian-bagian pokok tertentu saja juga tidak, sehingga kesannya yang muncul adalah penari jalan-jalan di panggung," katanya. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga