Gusti Agung Putri Astrid, MA lahir di Malang 15 Oktober 1967, Sang ayah I Gusti Ngurah Oka dari Puri Kapal  Kekeran, Mengwi Badung menanamkan dasar-dasar yang kuat untuk menjadikan nilai-nilai kehidupan dan budaya Bali menjadi pedoman hidup. Oleh karena itu, perjuangannya dalam berbagai bidang tak pernah lepas dari semangat mengimplementasikan sistem nilai ke-Bali-an yang bervisi hidup lah dari apa yang dihasilkan dan membangun kehidupan dari apa yang harus diberi.

Ia ikut aktif kegiatan pers Mahasiswa di kampus kemudian ikut terjun dalam pendampingan kelompok masyarakat yang teraniaya di masa Orde Baru. Setelah meraih gelar sarjana di Fisip Unair 1991, Ia masuk ke dunia lembaga swadaya (LSM) melalui ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat) di Jakarta dan selanjutnya meraih gelar Master of Arts (MA) jurusan politik di Institute of Social Studies, The Hague, Netherlands (Belanda) 2005.

Selama menempuh studi dua tahun di Belanda 2004-2005, kesempatan itu digunakan mendalami kebijakan publik dan problematikanya dalam penerapannya di Negara berkembang seperti  di Indonesia. Sepulang dari Belanda pada 2006 Gung Tri- begitu panggilan akrabnya –diberi kesempatan untuk memimpin ELSAM, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang aktif memperjuangkan penegakan HAM. Ini adalah untuk pertama kalinya LSM yang dikenal kritis terkait pelanggaran HAM tersebut itu dipimpin oleh seorang perempuan.

Selama kepemimpinannya, Elsam aktif membantu DPR dan Komnas HAM dalan menyusun rancangan perundang-undangan yang terkait masalah-masalah HAM termasuk UU Pengadilan HAM, sehingga seluruh pelanggaran HAM termasuk kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan siapa pun tanpa pandang bulu bisa dibawa ke pengadilan.

Menjelang Pemilu 2009 Gung Tri bergabung dengan PDI Perjuangan karena komitmen untuk menperjuangkan “wong cilik”. Meski dalam pencalegan saat itu, ia belum berhasil masuk menjadi anggota DPR-RI, dia tetap loyal terhadap partai. Pada kongres 2010 di Bali, Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum DPP PDIP memberinya kesempatan menduduki jabatan Ketua Departemen Hukum dan HAM DPP PDIP dan dalam Pemilu Legislatif 2014 ini kembali masuk jajaran caleg DPR-RI nomor urut 3 dari PDIP.

Gung Tri menyatakan, program yang akan dilakukan setelah terpilih nanti akan terus memberikan pendampingan kepada para perempuan termasuk tugas utama memperjuangkan perundang-undangan yang bisa melindungi harkat dan martabat serta HAM para perempuan yang sangat rawan dari tindakan kekerasan. Kalau di Elsam hanya  menjadi  co-partner DPR dan Komnas HAM, bukan sebagai pemutus. Tetapi setelah menjadi anggota legislatif nanti  akan memegang kekuasaan sebagai pemutus.

Bila terpilih nanti, hak atas rumah dinas DPR akan digunakan sebagai rumah aspirasi dimana  masyarakat Bali bebas mendatanginya setiap saat. Kami tidak akan menjadi seorang elitis, tetapi tetap bersama masyarakat secara bersama-sama agar peran masyarakat lebih besar dalam menentukan kebijakan-kebijakan publik.

Terkait masa kampanye nanti, Gung Tri akan turun langsung  tatap muka ke masyarakat untuk melihat dari dekat potret penderitaan masyarakat, selain tetap menggunakan saluran media dan tentunya bakti sosial melalui pendampingan dengan memberikan pencerahan. Kami tidak mau money politic karena kami bukan incumbent yang dibekali dana Bansos, kami tetap optimis dengan strategi yang digunakan ini untuk meraup suara yang besar karena  politik uang saya kira cenderung menurun dalam Pileg kali ini seiring meningkatnya kesadaran politik dan kepekaan masyarakat.

Optimisme ini terlihat saat turun ke daerah (desa), ternyata masyarakat sangat peka dalam melihat sekaligus memahami makna  ketulusan dan keikhlasan yang memancar dari jiwa jiwa yang tercerahkan dari seseorang yang selama ini memiliki semangat memberi, sehingga kami mendapat sambutan yang sangat mengharukan dan menghibakan hati, masyarakat meminta kami untuk melakukan perjuangan yang maksimal demi kaum perempuan yang tentunya berimplikasi positif bagi laki-laki.

Dalam pertarungan politik Pileg 2014, Gung Tri mengaku siap kalah dan siap menang, Nothink to lost  (tidak ada yang hilang). Misalnya jika tidak beruntung atau kalah, kami tetap pada ruh perjuangan yang sudah dirintis selama ini untuk membela HAM para perempuan dengan membentuk sejumlah LSM  untuk  memberikan pencerahan terhadak hak dan kewajiban serta meningkatkan kesadaran politik kaum hawa karena tujuan hidup kami adalah memberikan yang terbaik bagi kemanusiaan.

Adapun program yang ditawarkan pada masa kampanye nanti seputar:
1. Menjaga Identitas
Bali adalah daerah dengan identitas social budaya yang kuat dan alam lingkungan yang sangat indah. Identitas ini  adalah modal berharga untuk menyelesaikan masalah-masalah kemiskinan, kesenjangan dan peningkatan kesejahteraan.

2. Memberdayakan SDM
Bali memerlukan sumber daya Manusia (SDM) Bali yang kreatif mampu menghadapi perubahan jaman. Leluhur orang Bali telah berhasil membangun hubungan harmoni antara kebudayaan dan pariwisata. Sekarang menjadikan kreativitas harus menjadi senjata menghadapi globalisasi.

3. Memperkuat peran perempuan
Bagi Bali kaum perempuan adalah penyangga kehidupan pelaksana adat-istiadat dan praktek kebudayaan Bali tidak mungkin tanpa peran perempuan. “Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung” kata Bung Karno. “Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak.

Agenda Perjuangan
1. Pendidikan murah berkualitas untuk semua
Pendidikan murah berkualitas saat ini hanya slogan. Pendidikan berkualitas hanya milik kaum berpunya. Berbagai pungutan tetap memberatkan. Anggaran Negara untuk pendidikan harus diperbesar dan diawasi.

2. Kesejahteraan yang merata
Layangan kesehatan yang murah dan berkualitas akses terhadap permasalahan dan perlindungan terhadap usaha kecil adalah jalan menciptakan pemerataan. Negara wajib melakukan pemberdayaan SDM dan memberikan perlindungan hukum.

3. Menjaga alam dan Budaya
Alam dan budaya memerlukan perlindungan dan pemberdayaan eksploitasi alam dan budaya harus di hentikan. Terapkan subsidi untuk pelestarian alam dan seni budaya. Dorong seniman menjadi lebih kreatif.

*Pengalaman Berorganisasi.
-Direktur Eksekutif Elsam 2006 –present
-Ketua Panitia Seminar Nasional Reformasi KUHP 2007
-Calon Legislatif PDIP  No.6 Dapil Bali 2008
-Ketua panitia kompetensi  warisan Otoritariom II 2008
-Kepala divisi riset ELSAM. 2003 -2005
-Koordinator program  Penyelesaian Pelanggaran HAM masa lalu ELSAM 2000-2002
-Pelatih HAM di berbagai pelatih HAM yang diselenggarakan oleh komnas HAM. Komnas perempuan,    kejaksaan Agung, serikat buruh, serikat  tani dan organisasi-organisasi kemasyarakatan di Aceh, Surabaya, Palembang, Timor-Timur, Lombok, Bali.
-Pendiri dan anggota badan penasehat tim relawan untuk kemanusiaan 1996-2006.
-Observer Internasional PBB untuk jajak pendapat di Timor-Timur Juli-September 1999
-Observer Internasional PBB untuk pemilu Timor-Timur Agustus-September 2000
-Pendiri dan anggota jaringan kerja budaya Jakarta, Indonesia 1993. (*)

Editor: I Nyoman Aditya
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar